BERBAGI

Mataram – “Ekstrimisme dan terorisme muncul bukan karena banyak orang yang terlibat, tetapi karena banyak orang yang membiarkan hal itu”, demikian kata Dr. Suprapto, Direktur Nusatenggara Center (NC) Mataram dalam sambutannya pada kegiatan Workshop Finalisasi Modul Training Bina Damai di Mataram beberapa hari lalu (26-28 Juli). Workshop hasil kolaborasi NC dengan PPIM UIN Jakarta ini sendiri bertujuan untuk memperoleh masukan, kritik dan saran konstruktif untuk penyempurnaan modul training bina damai.

Selain para penulis modul, hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pihak yang memberi masukan berharga untuk penyempurnaan modul, antar lain perwakilan Polda NTB, Kesbangpoldagri, MUI NTB, FKUB NTB, FKPT, FKDM, Wanita Islam, KPI, PGI, PHDI, Akademisi, dan Budayawan dari Lombok dan Bima.

Lebih lanjjut dalam orientasinya, Suprapto mengatakan bahwa penanggulangan kekerasan dan ekstreimisme merupakan salah satu fokus kajian dan advokasi yang dilakukan oleh NC terutama sejak satu dasawarsa terakhir. Berbagai kegiatan yang pernah dilakukan lembaga yang berlokasi di Jl. Pariwisata Mataram ini antara lain dialog, diskusi publik, seminar, workshop, riset, talkshow, kemah kebangsaan pemuda lintas agama, pembentukan forum-forum santri dan pelajar, pemberdayaan ekonomi pesantren, serta kampanye publik untuk penanggulangan radikalisme dan terorisme. Dalam kesempatan tersebut, Suprapto yang juga dosen UIN Mataram ini menyatakan bahwa salah satu program baru yang akan dilaksanakan oleh NC di bulan Agustus dan September ini adalah Training Bina Damai bagi remaja. Training ini dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan generasi muda mengenai perlunya kegiatan kontra kekerasan dan ekstremisme. Beberapa materi penting seperti pemahaman keagamaan yang moderat, kemampuan mengelola konflik dan upaya-upaya bina damai di tingkat lokal, juga akan dikaji dalam training yang akan dilangsungkan di wilayah Lombok dan Bima tersebut.

Suprapto, mengibaratkan kondisi masyarakat saat ini seperti rumput kering. Hanya dengan sedikit bensin dan percikan api, maka seluruh hutan akan terbakar. Begitu juga dengan remaja, tersulut sedikit dengan provokasi maka kekerasan dan tindakan anarkitis tidak akan terhindarkan. Menghentikan radikalisme dan menangkap teroris itu bukan tanggung jawab NC tetapi wewenang densus 88 atau aparat kepolisian. “NC hanya membantu mengurangi paham yang menjurus radikalisme dan ekstrimisme”, demkian tukasnya.

Banyak pihak menyambut baik kegiatan ini, salah sarunya dari perwakilan Polda NTB yang menyatakan “Persoalan kekerasan dan ekstrimisme yang masih ada di Indonesia termasuk di NTB memerlukan perhatian serius semua pihak. Kami, sebagai aparat, menyambut baik program NC ini”. Hal senada juga disampaikan Dr. Warni Djuwita, M.Pd, pengurus Wanita Islam NTB yang mengapresiasi workshop ini dan berpesan agar perempuan dan keluarga dilibatkan dalam kegiatan penanggulangan kekerasan dan ekstrimisme. Dari sisi budaya, Lalu Anggawa mengingatkan bahwa perlu revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal untuk menolak ideologi radikal. “Banyak nilai-nilai Kesasakan yang mementingkan harmoni dan toleransi. Ini harus digali dan disosialisasikan terutama kepada generasi muda”, kata Anggawa. “Persoalan terorisme dan ekstrimisme itu tidak ada hubungannya dengan satu agama tertentu. Oleh karena itu, pelibatan semua remaja lintas agama dan lintas iman sangatlah perlu”, demikian kata I Gede Mandre dari PHDI yang diamini oleh Romo Federik dari PGI NTB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here