BERBAGI

MATARAM-Nusatenggara Centre (NC) bekerja sama dengan DPRD Kota Mataram kembali menggelar diskusi akhir pekan pertama tahun 2019. Diskusi dengan tema “Peran Agama dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia di Kota Mataram” itu digelar di Sekretariat NC, Sabtu (16/2).

Hadir sebagai keynote speaker H. Didi Sumardi, Ketua DPRD Kota Mataram dan tiga narasumber yang mewakili masing-masing agama. Yakni, Prof Dr Suprapto dari tokoh Islam sekaligus pakar sosiologi agama; Dr Siti Zaenab, dosen STAHN Gde Pudja Mataram; dan Frederik yang merupakan pendeta Kristen.

Pendiri NC, Dr Kadri dalam sambutannya mengatakan, diskusi tersebut bertujuan menghimpun potensi umat beragama sebagai modal sosial dalam membangun kota Mataram yang pluralis. Dalam diskusi yang dihadiri lebih kurang 40 peserta dari berbagai agama tersebut, H Didi Sumardi mengatakan, agama adalah sumber substansi nilai dan menjadi dasar filosofi dalam menjalani kehidupan. Agama menjadi tumpuan dasar manusia dalam melakoni hidupnya.

“Tanpa agama seseorang akan kehilangan marwah hidupnya,” ungkapnya.

Tiga narasumber dalam diskusi ini lebih menekankan pada ajaran masing-masing agama yang mengajarkan kebersamaan dan harmoni. Siti Zaenab mengatakan, pengelolaan kemajemukan bagi umat Hindu dan Bali bukanlah hal yang baru. Tetapi telah terwariskan dari zaman kerajaan.

“Orang Bali telah memiliki konsep untuk mengelola kemajemukan untuk menciptakan keharmonian dan keharmonisan hubungan sosial masyarakat,” ujarnya.

Sementara Pendeta Frederik menekankan pada aspek peran agama untuk membangun dan merajut kerukunan, toleransi, dan perdamaian. Nilai-nilai ini harus diajarkan sejak usia dini, dan secara aktif generasi melenial harus mengambil peran sebagai agen perdamaian.

Sementara Prof Suprapto lebih menekankan pada pentingnya semua umat beragama di Kota Mataram menjadikan beberapa hal sebagai musuh bersama. Seperti narkoba, HIV/AIDS kriminalitas, kemiskinan, kekumuhan, violence conflict,  dan radikalisme, ekstremisme serta terorisme. Agama harus hadir untuk mengambil langka preventif dalam rangka mengantisipasi dan umat beragama harus menjadikan hal tersebut sebagai musuh bersama yang mesti diperangi.

“Menurutnya, bila hal ini mampu diaplikasikan maka Kota Mataram akan benar-benar religius, sesuai dengan salah satu motto kota Mataram,” tandasnya.

Setelah sesi tanya jawab, diskusi ditutup tepat pukul 13.00 Wita. Selanjutnya tim perumus akan menyusun beberapa rekomendasi yang akan disampaikan ke DPRD Kota Mataram.

Diterbitkan oleh Lombok Post pada 18 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here