BERBAGI

MATARAM, Nusateggara Centre.or.id Integritas menjadi tolak ukur keberhasilan penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan. Berbagai strategi dilepas untuk mewujudkannya. Ditambah masa wabah seperti saat ini, penyelenggara dan peserta dihadapi tantangan baru menciptakan demokrasi yang sehat dalam arti pelaksanan dan pelaksana sendiri. Melihat permasalahan ini, Nusatenggara Center (NC) mengadakan sebuah diskusi mencari solusi pada Rabu, 16/09/2020.

Berkiprah sejak 1999, NC terus konsen membangun iklim masyarakat yang sejuk, dan toleran dalam berbagai situasi. Kali ini  diskusinya bertajuk “Mewujudkan Pilkada Berintegritas di Masa Kehidupan Baru Pandemi Covid 19” dengan narasumber dari unsur Bawaslu NTB, KPU NTB, dan Kepolisisan setempat.

Direktur NC menilai tema ini perlu untuk dibahas ditengah penyelenggaraan pemilu di tengah new normal. Selain sehat dalam arti pelaksanaan, pilkada saat ini juga harus sehat bagi yang melaksanakan.

“ Tema ini menjadi spesial dibanding diskusi-diskusi mengenai kepemiluan yang pernah NC selenggarakan. Di era new nomal ini tentu saja banyak rintangan dan tantangan baru yang dihadapi.” Sebut Dr. H. Kadri, M.Si dalam orasi pada sesi pertama acara, sebagai pemantik diskusi.

Awin Azhari, menjadi pemandu jalannya diskusi, mempersilahakn Suhardi dari Bawaslu dan Zuriati KPU, untuk menyampaikan uraiannya.

Point penting dari Zuriati, bahwa pelaksanaan pilkada serentak di tujuh kabupaten kota NTB akan berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan korona dengan ketat. Mulai dari penyediaan perlengkapan kebersihan untuk penyelenggara, dan tempat pemungutan suara sampai pembagian orang di lokasi pemungutan suara.

“Pemilu kali ini kita akan mengenal istilah 12 hal baru di TPS, yaitu: (1) Masker (2) 500 pemilih (3) mencuci tangan (4)dilarang berdekatan (5)KPPS sehat (6)cek suhu (7)pengaturan kedatangan (8)sarung tangan (9)tidak bersalaman (10)tinta tetes (11)pelindung wajah (12)desinfeksi TPS.”tuturnya.

Suhardi menegaskan, bahwa pemilihan adalah kebutuhan. Setiap orang harus mengawal jalannya pilkada. Hajat orang banyak akan dipertaruhkan melalui pesta demokrasi ini. Dia seolah menyiratkan bahwa tugas pengawasan harus dilakukan juga oleh masyarakat, jalan formalnya melalui Badan Pengawas Pemilu.

Total 50 orang mengikuti giat ini, mewakili ormas, mahasiswa, organisasi keagamaan, kepemudaan, dan awak media. Jalannya diskusi terpantau menarik, sebab saling mengisi pemikiran antar peserta dan pemberi materi. Diskusi diakhiri dengan deklarasi oleh seluruh hadirin, yang menyuarakan pilkada sehat, damai, dan berintegritas. (Awin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here