BERBAGI
Suasana Diskusi Akhir Pekan NC, 24 Pebruari 2019

MATARAM-Hubungan antar etnis di Kota Mataram terbilang harmonis. Namun kemajemukan juga bisa menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat.

Untuk menghindari hal tersebut Nusatenggara Centre (NC) menggelar diskusi akhir pekan yang mengangkat tema “Keragaman Etnik sebagai Modal Sosial Kota Mataram”, Minggu (24/2). Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Islam Sekarbela dengan mengadirkan beberapa tokoh adat.

“Kita ingin mencoba mendiskusikan bagaimana agar keragaman etnik tidak menjadi potensi disharmonisasi masyarakat, melainkan mampu menjadi modal sosial bagi kemajuan Kota Mataram,” ucap Kadri selaku Direktur NC dalam sambutannya.

Diskusi itu menghadirkan Mamiq Ari dari Majelis Adat Sasak; Subhan Abdullah yang merupakan ketua Ikatan Keluarga Sumbawa; dan Muhamad Natsir, ketua Kerukunan Adat Bima sebagai pembicara. Peserta diskusi juga diikuti oleh perwakilan masing-masing etnis di NTB. Setiap narasumber menyampaikan sesuai dengan perspektif sukunya masing-masing.

“Kita kesulitan mencari data secara kuantitatif jumlah orang Sasak,” ujar Mamiq Ari mengawali diskusi.

Dia mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) dulu tidak menghendaki pendataan menurut suku bangsa karena dianggap berpotensi mengancam ketahanan bangsa. Ari menyayangkan kekuatan ekonomi masyarakat Sasak sebagai mayoritas di Mataram terbilang lemah. Ini disebabkan kultur wirausaha lebih dominan dimiliki oleh etnis-etnis pendatang, seperti Jawa, Bali, dan Tionghoa dibandingkan masyarakat Sasak sendiri.

Dalam penyampaiannya, Subhan banyak bercerita tentang sejarah etnis Sumbawa. “Dulu masyarakat di Sumbawa diklasifikasikan menjadi tiga kelas, strata pertama bagi keturunan raja, strata kedua untuk masyarakat merdeka, dan strata terakhir adalah para budak/pembantu,” tuturnya.

Dia mengatakan, karakter orang Sumbawa lebih cenderung individualis dalam berusaha. Keberagaman merupakan fitrah Tuhan yang tak mampu dielakkan, dan hal itu memang bukan untuk dihindari melainkan disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena itu pendidikan multikultural harus selalu didengungkan.

Materi terakhir disampaikan oleh Natsir. Wakil rektor Universitas Mataram tersebut terpilih sebagai ketua kerukunan Bima secara aklamasi pada tahun 2015. “Jumlah warga Bima di Lombok berkisar tiga puluh ribu orang,” ungkapnya.

Natsir menjelaskan toleransi itu bukan sekadar saling menghargai, melainkan sebuah keberterimaan dalam diri individu untuk membiarkan sesuatu berjalan pada garisnya.

Hadir juga Didi Sumardi, Ketua DPRD Kota Mataram. Didi menilai hidup membutuhkan instrumen yang dinamis. Justru jika statis sulit untuk maju.

Menurutnya, suasana kebatinan orang dulu dan sekarang sangat berbeda. Masyarakat sekarang lebih terbuka, elegan, dan toleran. Sebab itulah frekuensi konflik sosial kini sangat minim. (ida/r7/*) (Sumber: Lombok Post, 27 Pebruari 2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here